2017 : Getting Married

December 18, 2017

At some point in my life, I have wanted a story of friend-turns-lover.
I have wanted to be liked back by someone I've been crushing on for so long.
I have wanted to have a story that people wants to have;
  of how I met my other half and spending the rest of my life with.

At some point in life, I have gone into details of wanting someone nerdy,
  someone who can bore me with facts. 
Someone who would like to travel with me, someone who is a lot taller than me,
  someone who would appreciate my love for reading cheesy young-adult books.
Someone who would study abroad, someone who is this and that.

At some point in my life, I know I don't want a complicated story of love and hate.
I know I don't want a cheesy declaration of love eventhough I do enjoy reading one.
I know I don't want days of being a crying mess or days of being overjoyed.
I know I'm not longing for a romantic surprise or grand gesture.
It's the small things that matters, I thought.

Little did I know that overtime, what I really want is someone
  who is faithful enough to knock on the door and ask for me to my father.
Little did I know that it involve a sense of relief
  even more than the feeling of deeply in love.

Little did I know, it has always been you.

To the one I never thought I would spend the rest of my life with, I'm learning you.



*Tarik napas panjang dulu karena bingung mulai dari mana*

Ini nih yang paaaaling unpredictable dari 2017 karena saya nggak punya rencana apa-apa soal menikah. Tahun ini, tahun depan, ya sedateng-datengnya jodohnya aja hehehe. Ternyata datangnya di penghujung tahun, right after I turn twenty something this year (tetep disensor).

Banyak yang nanya, kenalnya dari mana, gimana ceritanya, terus saya jawabnya bingung... because everything went so fast and I'm grateful for that. Berasa banget bagaimana dimudahkannya semua proses itu sama Allah, meskipun tetep ada dramanya dikit (terus kalo temen saya ada yang baca pada protes dibilang dramanya dikit), meskipun kerasanya surreal (dan masih sampai sekarang). Makanya itu nyeritain gimana prosesnya kayak jadi harus cerita panjang lebar soal saya yang yakin banget nggak mau pacaran sebelum nikah sejak dulu, temen saya yang ini, temen saya yang itu, ada acara ini acara itu.

Intinya adalah, nggak usah orang lain, saya sendiri suka lucu aja ternyata jodoh saya ya yang itu wakakaka. Yaelah, dari dulu ada di situ.

Tapi ya pelajarannya adalah, sebesar-besarnya usaha kita, seikhlas-ikhlasnya kita menerima, kalo nggak jodoh ya nggak jodoh aja. Sebaliknya, mau sekeukeuh itu kita menolak, kalo jodoh ya jodoh aja.

Duluuu banget waktu masih SMA pernah sih punya pikiran mau nikah abis lulus kuliah, karena bunda juga gitu sama ayah. Tapi kan kenyataannya nggak (yha), terus saya keburu jalan sana jalan sini, kerja ini, main ke situ, tiap ngomongin nikah yang kepikiran adalah nanti nyucinya gimana (hm, gimana ya nggak bisa nyuci (1)), tinggalnya di mana (2) dan aku kan minumnya air dingin kalau nggak punya kulkas sama gak bisa nyimpen makanan buat dimakan besok lagi gimana (3). Seriusan, itu doang yang ada di kepala saya sampe pas bunda nanya maunya yang kayak apa saya bilangnya mau yang bisa beliin kulkas sama mesin cuci.

Sekarang ternyata kekhawatiran saya itu kayak receh banget, hahaha. Karena menikah itu bukan tentang tinggal di mana atau nyucinya gimana, tapi tentang membentuk suatu generasi baru yang harus dididik dengan tanggung jawab. Ya tentang tinggal sama nyuci ya tetep ada, cuma, kalau menikahnya untuk ibadah, percayalah yang nanti memampukan, yang memberi rizki, ya Allah juga. Pasti cukup, Insya Allah cukup :).

Dulu juga saya pernah ngobrol sama temen, setelah dia punya anak, dia cerita how her life turn upside down and her life target change at once but she is happy with that. Dulu saya pikir, kalau saya nikah, saya akan tetap jadi saya, yang craving traveling (seru kali ya jalan-jalan berdua), yang suka nonton korea (hm), yang mager (kalo lapar terus di kamar ya udah tidur aja karena males keluar), dan lain-lain. Turns out, in these couple months, the changes come and I go with it. Saya ngerasa lebih santai menghadapi apa yang dihadirkan ke saya dan mindset nya jadi kayak ya sooner or later saya akan sampai tahap itu juga so, as long as it is for a good cause, why not sooner? (Ya ntar juga saya bakal harus masak buat anak, misalnya, why don't I start from right now?).

Gitu deh jadi ternyata menikah itu nggak serem (ini saya doang jangan-jangan). Alhamdulillah :)

See you in the next 2017 post!

You Might Also Like

0 comments

Blog Archive