jadi mahasiswa tingkat akhir itu berarti jadi orang yang dihujani pertanyaan yang didahului dengan kata 'apa' ('apa topik skripsinya?'), dilanjutkan dengan 'kapan' (misalnya 'kapan lulus?' dan 'kapan wisuda?' lebih jauh lagi 'kapan mulai cari kerja?' dan 'kapan nikah' (yang terakhir kejauhan sih keponya)) yang diikuti dengan pertanyaan di mana ('mau kerja di mana?' 'mau lanjut sekolah di mana?' dan 'udah daftar di mana aja?').
saya pernah baca tulisan orang yang udah lulus, dia bilang intinya begini 'kalo nggak kenal-kenal banget nggak usahlah nanya-nanya abis lulus ini dia mau ke mana. it is indeed the hardest question we didn't learn in university'. dan saya setuju sama hal itu. pertanyaan ini terlalu nyebelin (meskipun jawabannya penting).
percayalah teman-teman walaupun kita nggak dapet sinyal satu semester penuh jadi orang tua sama sekali nggak bisa nanyain progres skripsi dan kapan wisuda dilaksanakan sampe ga bisa scroll timeline twitter untuk tau keluh kesah orang-orang tentang skripsi masing-masing atau laporan progress masing-masing, pertanyaan-pertanyaan di atas itu tetep aja menghantui (dengan versi macam-macam).
siapa yang nanyain? diri sendiri. satu bagian yang daleeeeeeeem dan jauuuuuuuh banget di otak dan hati, bolak-balik mempertanyakan. setelah lulus lalu apa?
dan percaya, deh, to take a step forward is never easy.
saya bisa aja menjabarkan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi setelah saya lulus. tapi untuk mengambil first step itu, sampai sekarang saya masih ragu. entah karena apa. sepertinya masih ada yang mengganjal. walaupun ini jadi reminder juga sih, saya harusnya bersyukur. enam belas tahun belakangan ini saya sekolah nggak berenti nggak pake galau mau masuk sekolah yang mana. lancaaaarrrr kayak jalanan di kampus.
ini kali pertama saya tahu perpindahana fasenya tidak akan semudah dulu. sekarang saya yang memutuskan, mau ke mana, mau apa, mau di mana, mau bagaimana...
to move on is never easy, either to take a step forward. the future might not pitch black, but it is so bright that it is blinding. yang pasti, kemanapun akhirnya, semoga saya tetap 'nggak kemana-mana'
saya pernah baca tulisan orang yang udah lulus, dia bilang intinya begini 'kalo nggak kenal-kenal banget nggak usahlah nanya-nanya abis lulus ini dia mau ke mana. it is indeed the hardest question we didn't learn in university'. dan saya setuju sama hal itu. pertanyaan ini terlalu nyebelin (meskipun jawabannya penting).
percayalah teman-teman walaupun kita nggak dapet sinyal satu semester penuh jadi orang tua sama sekali nggak bisa nanyain progres skripsi dan kapan wisuda dilaksanakan sampe ga bisa scroll timeline twitter untuk tau keluh kesah orang-orang tentang skripsi masing-masing atau laporan progress masing-masing, pertanyaan-pertanyaan di atas itu tetep aja menghantui (dengan versi macam-macam).
siapa yang nanyain? diri sendiri. satu bagian yang daleeeeeeeem dan jauuuuuuuh banget di otak dan hati, bolak-balik mempertanyakan. setelah lulus lalu apa?
dan percaya, deh, to take a step forward is never easy.
saya bisa aja menjabarkan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi setelah saya lulus. tapi untuk mengambil first step itu, sampai sekarang saya masih ragu. entah karena apa. sepertinya masih ada yang mengganjal. walaupun ini jadi reminder juga sih, saya harusnya bersyukur. enam belas tahun belakangan ini saya sekolah nggak berenti nggak pake galau mau masuk sekolah yang mana. lancaaaarrrr kayak jalanan di kampus.
ini kali pertama saya tahu perpindahana fasenya tidak akan semudah dulu. sekarang saya yang memutuskan, mau ke mana, mau apa, mau di mana, mau bagaimana...
to move on is never easy, either to take a step forward. the future might not pitch black, but it is so bright that it is blinding. yang pasti, kemanapun akhirnya, semoga saya tetap 'nggak kemana-mana'
terharu adalah ngirim draft skripsi jam 21:16 waktu Jakarta (yang berarti sekitar jam 11 di Jepang) terus dibales jam 21:30 waktu Jakarta. LIMA BELAS MENIT SAUDARA-SAUDARA! dan ini hari Minggu dan udah mau tengah malem.
waktu itu saya nanggepin temen saya yang nanya kenapa saya milih dosen ini jadi pembimbing skripsi dengan "nggak apa-apa yang penting gue diurusin," dan ternyata diurusinnya beyond imagination. kayak ancol gitu lah kira-kira.
terimakasih ya buuu. mulai sekarang janji nggak procrastinating lagi (meskipun dipanggil-panggil dramacrazy, meskipun dipanggil-panggil mangafox)
waktu itu saya nanggepin temen saya yang nanya kenapa saya milih dosen ini jadi pembimbing skripsi dengan "nggak apa-apa yang penting gue diurusin," dan ternyata diurusinnya beyond imagination. kayak ancol gitu lah kira-kira.
terimakasih ya buuu. mulai sekarang janji nggak procrastinating lagi (meskipun dipanggil-panggil dramacrazy, meskipun dipanggil-panggil mangafox)
hello, this is my first week on my 8 semester. and yes, during my thesis semester, I plan to write things I learn throughout the months until this August.
FYI, in my uni, even though I'm majoring architecture which is a part of engineering faculty, we have to write a thesis, and not doing some kind of 'tugas akhir' like most of people doing in another uni.
one obstacle that you meet at the beginning of your thesis semester is to decide what to write about. It can be pretty time-consuming I should say. Yet exciting at the same time. I'm now in the week where I have to choose my topic (carefully) and my professor as well. And this is the week where the attack of 'not confident and insignificant' come.
At some point, I know that I have a low expectation on myself, and I'm not proud of it. When the first week's task is to decide on something, having that kind of view on yourself is not advantageous at all. And actually, it is never good.
So I think the time has come for me to realize that somehow, I gotta go through this. Got to have the determination to finish this in the next 3 months. Gotta defeat the 14 weeks ahead of me by conquering myself first. After all I will not going anywhere if I had not pass this stage, aren't I?
that is my first week on my (insya Allah) last semester. Have a good semester everyone! :D :D
FYI, in my uni, even though I'm majoring architecture which is a part of engineering faculty, we have to write a thesis, and not doing some kind of 'tugas akhir' like most of people doing in another uni.
one obstacle that you meet at the beginning of your thesis semester is to decide what to write about. It can be pretty time-consuming I should say. Yet exciting at the same time. I'm now in the week where I have to choose my topic (carefully) and my professor as well. And this is the week where the attack of 'not confident and insignificant' come.
At some point, I know that I have a low expectation on myself, and I'm not proud of it. When the first week's task is to decide on something, having that kind of view on yourself is not advantageous at all. And actually, it is never good.
So I think the time has come for me to realize that somehow, I gotta go through this. Got to have the determination to finish this in the next 3 months. Gotta defeat the 14 weeks ahead of me by conquering myself first. After all I will not going anywhere if I had not pass this stage, aren't I?
that is my first week on my (insya Allah) last semester. Have a good semester everyone! :D :D
do you remember that I have posted about a community project to rejuvenate a school library? Around the end of last year, some friends of mine had taken the course and they make a very awesome library that can be check here :
and another one here :
Both of the library are cool and the behind the scene parts are exciting. I'd like to participate in this kind of project again someday! hope you like it! Maybe some of the furniture would inspire you to make one in your own house. Since this is a (less than 2 months) job, most of them are hand made :)
| http://perpustakaansekolahku.wordpress.com/ |
![]() |
| http://akudanperpustakaan.blogspot.com/ |
anyone visited afairui.com yet?
the main event will be held in Candra Naya, Gajah Mada on January 27th. It's only 25 days to the big day! I am currently working on a project with my friends, Grace, Tria, and Edwin (all architecture batch 2009) and it will be on the exhibition!
the main event will be held in Candra Naya, Gajah Mada on January 27th. It's only 25 days to the big day! I am currently working on a project with my friends, Grace, Tria, and Edwin (all architecture batch 2009) and it will be on the exhibition!
| rough sketch by Grace |
this is (finally) another post under the tags : studio 101.
setiap satu semester, saya rutin pergi ke tempat digital printing minimal 4 kali. Dua kali saat UTS, dua kali saat UAS. Satu kali untuk print display, satu kali lagi untuk print design report. Kadang-kadang lebih dari 4 kali per semester kalau butuh print display untuk presentasi progress project UTS/UAS. Digital printing has been an important part of our life as an architecture student.
Di deket kampus ada banyak banget tempat digital print, sebut saja tempat A, tempat B, dan tempat C (yang setelah disamarkan namanya tetap sangat obvious). Selain tiga tempat ini, jelas masih ada tempat-tempat lainnya, tapi tiga tempat inilah yang paling sering dikunjungi, terutama sama anak-anak yang seangkatan sama saya.
Saking seringnya kami ke tempat digital print, kami jadi punya preferensi masing-masing dan tau kelebihan kekurangan tempat-tempat itu. Ada yang banyakan trainee-nya, ada yang lama kalo hari Jumat siang, ada yang suka salah, ada yang kasirnya centil, ada yang pegawainya ganti-ganti terus, ada yang pegawainya pindah kerja, sampai ada yang punya operator print favorit. Saya sempet punya, tapi terus si mbaknya pergi entah kemana, mungkin karena terlalu jago jadi dijadiin manajer, who knows. Yang jelas karena si mbaknya ini pergi akhirnya saya pindah ke tempat print lain.
There's a lot of story about this theme. More than you can imagine. Mungkin karena segerombolan anak-anak ars ini adalah orang-orang perfeksionis, seringkali hasil printnya kerasa kurang terang warnanya, ada yang ke print dobel, operatornya trainee jadi rasanya pinteran dan cepetan gue kalo ngerjain, atau justru operatornya terlalu oke sampe kalo balik ngeprint pengennya sama mas/mbak yang itu aja. Ada juga yang kertasnya nggak dipotong jadi pas disatuin malah nggak nyambung gambarnya, dan lain-lain. Sering banget, setelah internal/eksternal/pengumpulan design report, kita makan sambil ngobrol soal pengalaman ngeprint. Sounds petty, isn't it? But try to do it more often, then you'll see things beyond the ordinary :)
There's too much to tell for one event of printing display in a specific place. Nggak cuma kegiatan ngeprintnya, ngejelasin ke operatornya mau ngeprint ukuran apa (dan cari harga semurah mungkin dengan cara ngeprint bareng temen), atau milih-milih kertas yang lamanya bisa bikin kesel (trust me it really happens). Kadang-kadang tempat digital print ini malah jadi studio dadakan saking banyaknya anak ars yang mau ngeprint dan kepepet mesti lanjutin display di tempat. Ngemaket di lantai tempat ngeprint pake celana pendek dan sendal jepit dalam keadaan belum mandi itu sudah biasa. Ganti baju di tempat print dan dilanjutkan dengan dandan juga ada apalagi ikutan sholat di tempat ngeprint. Masih untung kalo yang bagian pengumpulan atau presentasi satu angkatan doang, kalo sampe ada dua atau lebih angkatan yang deadlinenya jatuh pada hari yang sama, tempat ngeprint ini jadi semacam studio multi angkatan yang ribut luar biasa.
We share joys of finishing the project, even though whining about how we haven't done our best is something that we often do in the midst of waiting for the display to be print. Kata-kata "Yaudahlah ya," atau "Lo bikin berapa lembar? Gawat gue nggak nyampe segitu!" adalah percakapan yang pasti terdengar di tempat digital printing. Kadang-kadang gue mikir, ini pegawainya ngerasa kita annoying, nggak ya? Udah berisik, bikin penuh, banyak mau pula (misalnya masuk-masuk ke dalem tempat operator karena ada halaman yang nggak ke print atau operatornya nggak ngerti apa yang kita omongin. true story). One of my friend said this (and I can not agree more to him) : "Tantangan terbesar operator digital print adalah ngeprint desrep sama portfolio anak ars,"
Untuk mbak-mbak dan mas-mas operator yang selama 4 tahunan ini setia jadi pegawai saat high season macem tempat wisata kalo lagi liburan, without you all, maybe we just have to set up our own company. Mungkin display akan jauh lebih seadanya dan desrep akan jauh lebih tipis tanpa tempat digital print. Buat mbak pinter, mbak yang sampe kenalan sama temen saya, mas yang jago ngeprint bolak balik tanpa kita harus banyak omong, untuk trainee yang kesel karena gerombolan mahasiswa ribut ini suka sok tau dan banyak mau, I think I rarely say thank you though you have been such a significant part in our life as an architecture student.
Thank you.
Am I making the architecture students sounds bad? I hope not. You know, there's something we just can't explain in words. Things people might think as petty and insignificant are something that will bother us as much as deadline. and we are not that great either. most importantly i do not meant any harm. thank you :)
setiap satu semester, saya rutin pergi ke tempat digital printing minimal 4 kali. Dua kali saat UTS, dua kali saat UAS. Satu kali untuk print display, satu kali lagi untuk print design report. Kadang-kadang lebih dari 4 kali per semester kalau butuh print display untuk presentasi progress project UTS/UAS. Digital printing has been an important part of our life as an architecture student.
Di deket kampus ada banyak banget tempat digital print, sebut saja tempat A, tempat B, dan tempat C (yang setelah disamarkan namanya tetap sangat obvious). Selain tiga tempat ini, jelas masih ada tempat-tempat lainnya, tapi tiga tempat inilah yang paling sering dikunjungi, terutama sama anak-anak yang seangkatan sama saya.
Saking seringnya kami ke tempat digital print, kami jadi punya preferensi masing-masing dan tau kelebihan kekurangan tempat-tempat itu. Ada yang banyakan trainee-nya, ada yang lama kalo hari Jumat siang, ada yang suka salah, ada yang kasirnya centil, ada yang pegawainya ganti-ganti terus, ada yang pegawainya pindah kerja, sampai ada yang punya operator print favorit. Saya sempet punya, tapi terus si mbaknya pergi entah kemana, mungkin karena terlalu jago jadi dijadiin manajer, who knows. Yang jelas karena si mbaknya ini pergi akhirnya saya pindah ke tempat print lain.
There's a lot of story about this theme. More than you can imagine. Mungkin karena segerombolan anak-anak ars ini adalah orang-orang perfeksionis, seringkali hasil printnya kerasa kurang terang warnanya, ada yang ke print dobel, operatornya trainee jadi rasanya pinteran dan cepetan gue kalo ngerjain, atau justru operatornya terlalu oke sampe kalo balik ngeprint pengennya sama mas/mbak yang itu aja. Ada juga yang kertasnya nggak dipotong jadi pas disatuin malah nggak nyambung gambarnya, dan lain-lain. Sering banget, setelah internal/eksternal/pengumpulan design report, kita makan sambil ngobrol soal pengalaman ngeprint. Sounds petty, isn't it? But try to do it more often, then you'll see things beyond the ordinary :)
There's too much to tell for one event of printing display in a specific place. Nggak cuma kegiatan ngeprintnya, ngejelasin ke operatornya mau ngeprint ukuran apa (dan cari harga semurah mungkin dengan cara ngeprint bareng temen), atau milih-milih kertas yang lamanya bisa bikin kesel (trust me it really happens). Kadang-kadang tempat digital print ini malah jadi studio dadakan saking banyaknya anak ars yang mau ngeprint dan kepepet mesti lanjutin display di tempat. Ngemaket di lantai tempat ngeprint pake celana pendek dan sendal jepit dalam keadaan belum mandi itu sudah biasa. Ganti baju di tempat print dan dilanjutkan dengan dandan juga ada apalagi ikutan sholat di tempat ngeprint. Masih untung kalo yang bagian pengumpulan atau presentasi satu angkatan doang, kalo sampe ada dua atau lebih angkatan yang deadlinenya jatuh pada hari yang sama, tempat ngeprint ini jadi semacam studio multi angkatan yang ribut luar biasa.
We share joys of finishing the project, even though whining about how we haven't done our best is something that we often do in the midst of waiting for the display to be print. Kata-kata "Yaudahlah ya," atau "Lo bikin berapa lembar? Gawat gue nggak nyampe segitu!" adalah percakapan yang pasti terdengar di tempat digital printing. Kadang-kadang gue mikir, ini pegawainya ngerasa kita annoying, nggak ya? Udah berisik, bikin penuh, banyak mau pula (misalnya masuk-masuk ke dalem tempat operator karena ada halaman yang nggak ke print atau operatornya nggak ngerti apa yang kita omongin. true story). One of my friend said this (and I can not agree more to him) : "Tantangan terbesar operator digital print adalah ngeprint desrep sama portfolio anak ars,"
Untuk mbak-mbak dan mas-mas operator yang selama 4 tahunan ini setia jadi pegawai saat high season macem tempat wisata kalo lagi liburan, without you all, maybe we just have to set up our own company. Mungkin display akan jauh lebih seadanya dan desrep akan jauh lebih tipis tanpa tempat digital print. Buat mbak pinter, mbak yang sampe kenalan sama temen saya, mas yang jago ngeprint bolak balik tanpa kita harus banyak omong, untuk trainee yang kesel karena gerombolan mahasiswa ribut ini suka sok tau dan banyak mau, I think I rarely say thank you though you have been such a significant part in our life as an architecture student.
Thank you.
Am I making the architecture students sounds bad? I hope not. You know, there's something we just can't explain in words. Things people might think as petty and insignificant are something that will bother us as much as deadline. and we are not that great either. most importantly i do not meant any harm. thank you :)
On my Ethnic Architecture class last Monday, my lecturer said something like this :
Without questioning, you can't go anywhere. Questions are start of somethingWe were talking about our paper back then and I found that someone has finally make that thought into a full sentence. Of course he might not be the first and that may not exactly how he said it. But I guess this one is my favorite version.
the more I think about it, the more I realize that the majority of architecture student are in some kind of love/hate relationship. you said that it waste your time sometimes, that it makes you deal with some petty little things you never know exist before, it makes you stay up all night, it makes you addicted to coffee or any drink that helps you awake, it makes you do silly things like taking photo with a holed cardboard as if you are a game board (you know, the one with bunny appeared in a hole for you to hit), it makes your skin burnt after an endless survey, it makes you look terrible in the morning because you got no sleep and you have to present things early in the morning, and so on.
As bad as it would sound, it never really gets that bad. I mean, there is always pride in noticing details that some people may not even know, it always relieving to see your display printed on time after staying up all night, it is good to know a lot types of drinks and know exactly the effect to your body (does it make you stay awake and body-ache the day after, or it doesn't strong enough, or it makes you want more, or it doesn't taste good but it makes your eyes open), it is always fun to do silly things people won't do in their classroom, it is amazing how you can find things in a place that being taken for granted after being in that place almost a whole week, and it makes you proud.
really, I have never seen someone talks about architecture (no matter how bad it is for them) without such enthusiasm.
I guess we are all suffer from the love/hate relationship with this major
As bad as it would sound, it never really gets that bad. I mean, there is always pride in noticing details that some people may not even know, it always relieving to see your display printed on time after staying up all night, it is good to know a lot types of drinks and know exactly the effect to your body (does it make you stay awake and body-ache the day after, or it doesn't strong enough, or it makes you want more, or it doesn't taste good but it makes your eyes open), it is always fun to do silly things people won't do in their classroom, it is amazing how you can find things in a place that being taken for granted after being in that place almost a whole week, and it makes you proud.
really, I have never seen someone talks about architecture (no matter how bad it is for them) without such enthusiasm.
I guess we are all suffer from the love/hate relationship with this major
one thing about architecture is that it always takes you somewhere. My friends went to Mentawai this year and Alor last year. I went to walk along the Sudirman pedestrian this semester and along Wahid Hasyim earlier this year.
last monday, it takes me to kota tua. I went for a site visit regarding my project on afair 2013 and this is what I got
last monday, it takes me to kota tua. I went for a site visit regarding my project on afair 2013 and this is what I got
iseng buka-buka folder foto terus tiba-tiba inget kalo kira-kira setahun yang lalu, saya ikutan acara archicare.
Archicare itu salah satu prokernya anak sosma yang intinya adalah bikin workshop buat anak-anak kecil, workshopnya berkaitan dengan dunia arsitektur (semoga deskripsinya nggak ngaco) intinya kepedulian anak ars buat anak-anak yang kurang beruntung. Acaranya sih main-main, nonton film, bikin prakarya, dan ada materinya juga. Dan yang paling penting adalah gimana excitednya dan nggak bisa diaturnya anak-anak kecil itu. Disuruh kumpul kelompok tiba-tiba nggak mau, disuruh nyanyi eh jadi garing, hahaha. gitulah pokoknya, emang dasar nggak bisaeun kali ya ini sayanya.
(click to enlarge the photos)
anyway, archicare is coming to town! saya mau ikutan lagi ah,
Archicare itu salah satu prokernya anak sosma yang intinya adalah bikin workshop buat anak-anak kecil, workshopnya berkaitan dengan dunia arsitektur (semoga deskripsinya nggak ngaco) intinya kepedulian anak ars buat anak-anak yang kurang beruntung. Acaranya sih main-main, nonton film, bikin prakarya, dan ada materinya juga. Dan yang paling penting adalah gimana excitednya dan nggak bisa diaturnya anak-anak kecil itu. Disuruh kumpul kelompok tiba-tiba nggak mau, disuruh nyanyi eh jadi garing, hahaha. gitulah pokoknya, emang dasar nggak bisaeun kali ya ini sayanya.
(click to enlarge the photos)
anyway, archicare is coming to town! saya mau ikutan lagi ah,
here comes two big events from my department. Come and join! click on the caption for more information
| Ekskursi Mentawai 2012 |
| AFAIR 2013 |
my friend, Inay, is the oldest of us three. And now she is graduating, the first one of us three. We've been spending three years together, not getting along well every time but we can hardly count the times when we were not getting along.
it's hard to believe that we are finally being in this phase again, for me and dinan, the last year of university (insya Allah) and for her to step on the world after the university. We are getting older, and hopefully mature as well.
happy graduation inay! best wishes for your upcoming life. No, I can't say more than this. I am way sooooo happy for you, and words fail me. I want to put all the smile emoticons here but I'm afraid this post will be meaningless, so then I give you my prayer.
You know that as long as you keep your faith, nothing will stops you. Sesungguhnya hanya Allah satu-satunya pemberi pertolongan. congratulation on your graduation! :) :)
it's hard to believe that we are finally being in this phase again, for me and dinan, the last year of university (insya Allah) and for her to step on the world after the university. We are getting older, and hopefully mature as well.
happy graduation inay! best wishes for your upcoming life. No, I can't say more than this. I am way sooooo happy for you, and words fail me. I want to put all the smile emoticons here but I'm afraid this post will be meaningless, so then I give you my prayer.
You know that as long as you keep your faith, nothing will stops you. Sesungguhnya hanya Allah satu-satunya pemberi pertolongan. congratulation on your graduation! :) :)
hal paling sulit saat mau mulai ngerjain persiapan presentasi adalah niat. There's a lot in mind already, but the will hasn't come yet. Cliche, dan sebenernya dibuat-buat. Tapi entah kenapa selalu terjadi empat kali setahun, dua kali tiap semester. tiap mau uas dan uts.
kalo liat portfolio orang-orang di internet itu suka sedih sendiri kalo liat folder tugas di komputer. mereka kalo ngerjain itu penuh passion dan keliatannya emang kayak lagi seneng-seneng bukan menuhin deadline. seringnya tanya-tanya sendiri, kapaaaan ya kerjaan gue keliatannya bisa kayak gitu. salahnya adalah, yang gue lakukan cuma nanya-nanya sendiri aja, bukannya bergerak. hehehehehe. ini masalah se obvious ini kok nggak ilang-ilang juga, ya?
jadi yaudahlah, ini post tentang refleksi diri doang. soalnya lagi butek, minggu depan presentasi tapi mood ngerjain ga dateng-dateng, ngetok pintu di kepala aja nggak. huah. what am I going to do with myself? but anyway, harusnya quote-nya Edmud Bacon bener, ya : "It's in the doing that the idea come,"
happy (almost) holiday
kalo liat portfolio orang-orang di internet itu suka sedih sendiri kalo liat folder tugas di komputer. mereka kalo ngerjain itu penuh passion dan keliatannya emang kayak lagi seneng-seneng bukan menuhin deadline. seringnya tanya-tanya sendiri, kapaaaan ya kerjaan gue keliatannya bisa kayak gitu. salahnya adalah, yang gue lakukan cuma nanya-nanya sendiri aja, bukannya bergerak. hehehehehe. ini masalah se obvious ini kok nggak ilang-ilang juga, ya?
jadi yaudahlah, ini post tentang refleksi diri doang. soalnya lagi butek, minggu depan presentasi tapi mood ngerjain ga dateng-dateng, ngetok pintu di kepala aja nggak. huah. what am I going to do with myself? but anyway, harusnya quote-nya Edmud Bacon bener, ya : "It's in the doing that the idea come,"
happy (almost) holiday
Somehow I realized that I rarely write about my life as an architecture student.
Sebagai anak arsitektur, gue merasa hidup dalam asumsi orang banyak. Begitu ada orang yang denger kalo gue adalah anak arsitektur, secepat itu juga mereka menyebutkan meja gambar. I can't say it was wrong, though it is not entirely right. Menjelaskan pada orang-orang mengenai apa yang sebetulnya gue kerjakan menurut gue sulit. Gue menggunakan meja gambar di kampus, tapi gue tidak melakukan seperti apa yang mereka bayangkan; gambar teknik for almost 24/7, in my school, we are not doing that kind of thing.
Biasanya gue menjawab; 'nggak kok, sekarang udah pake komputer,' yang sebenarnya nggak sepenuhnya benar. gue menjawab seperti itu setelah menyesuaikan diri dengan apa yang ada di bayangan sebagian besar orang yang bertanya, bahwa kerjaan gue adalah menggambar dan menggambar.
Seriously, kalau ditanya tentang gimana kuliah di arsitektur, I believe that I will never be able to explain it in a short time. Tadi sore, secara random temen gue bilang kalo gue bisa menulis tentang anak ars, that would be interesting. Karena suruhan random itulah gue jadi kepikiran, but I'm not really sure where to start and what to tell. And that makes me come up with this idea. What about asking people what is it that they're want to know about architecture school and architecture student. Tentu saja semua yang gue tulis akan penuh dengan pengalaman pribadi gue yang mungkin tidak ditemui di sekolah lain, but anyway, if you want to know anything, just leave your feedback. thank you :)
Sebagai anak arsitektur, gue merasa hidup dalam asumsi orang banyak. Begitu ada orang yang denger kalo gue adalah anak arsitektur, secepat itu juga mereka menyebutkan meja gambar. I can't say it was wrong, though it is not entirely right. Menjelaskan pada orang-orang mengenai apa yang sebetulnya gue kerjakan menurut gue sulit. Gue menggunakan meja gambar di kampus, tapi gue tidak melakukan seperti apa yang mereka bayangkan; gambar teknik for almost 24/7, in my school, we are not doing that kind of thing.
Biasanya gue menjawab; 'nggak kok, sekarang udah pake komputer,' yang sebenarnya nggak sepenuhnya benar. gue menjawab seperti itu setelah menyesuaikan diri dengan apa yang ada di bayangan sebagian besar orang yang bertanya, bahwa kerjaan gue adalah menggambar dan menggambar.
Seriously, kalau ditanya tentang gimana kuliah di arsitektur, I believe that I will never be able to explain it in a short time. Tadi sore, secara random temen gue bilang kalo gue bisa menulis tentang anak ars, that would be interesting. Karena suruhan random itulah gue jadi kepikiran, but I'm not really sure where to start and what to tell. And that makes me come up with this idea. What about asking people what is it that they're want to know about architecture school and architecture student. Tentu saja semua yang gue tulis akan penuh dengan pengalaman pribadi gue yang mungkin tidak ditemui di sekolah lain, but anyway, if you want to know anything, just leave your feedback. thank you :)
dream big achieve bigger
I overheard a friend of mine, talking how she was planning to get into an architecture school before she got into one. She was saying that right now, she is going to make such plan again, for a bigger future, I guess. Life goes on after all, nothing waits you, not even the yellow bus or the train in the station.
i have a dream. I have lots of dreams and sometimes I just keep quiet and wait. But yes, people are moving, it seems like the one who are not moving is me and trust me this is frustrating. It seems like everything that is already on your hand slips just like water dropping from a hold of a hand. What is left is only the glimpse of it, the tiniest bits of it.
dream big and achieve bigger. you are what you dream of.
I overheard a friend of mine, talking how she was planning to get into an architecture school before she got into one. She was saying that right now, she is going to make such plan again, for a bigger future, I guess. Life goes on after all, nothing waits you, not even the yellow bus or the train in the station.
i have a dream. I have lots of dreams and sometimes I just keep quiet and wait. But yes, people are moving, it seems like the one who are not moving is me and trust me this is frustrating. It seems like everything that is already on your hand slips just like water dropping from a hold of a hand. What is left is only the glimpse of it, the tiniest bits of it.
dream big and achieve bigger. you are what you dream of.
it's kinda late since the exhibition is already over (earlier this month). But I should say this is one of the best exhibition I've ever attended. Enjoy some of my favorite works here :
![]() |
| ini nggak tau punya siapa. I don't really into paintings or something like that but this work is definitely ROCKS |
![]() |
| ini nggak tau juga punya siapa. but I love this one :3 |
![]() |
| this one is interesting. it made of capsule! |
![]() |
| and this last one caught me most. I just love it. by Ryfa (padahal gakenal) |
If you happened to come to the exhibition,went to the board where you can write your comment and see a pictures come from 9gag with my name written not far from the picture, that's not me. definitely not me.
Design process ini dimulai dengan penentuan tema. As I said before, the theme that the kids chose is the 'Under Water' theme. Di sini, kelompok akhirnya dibagi jadi 3; tim desain, tim sistem, dan tim workshop. Tim desain yang bikin rencana soal aplikasi tema ke perpustakaan, tim sistem yang bikin sistem baru untuk perpustakaannya (so it can still work although we're no longer there) dan tim workshop yang menentukan partisipasi anak-anaknya dalam pembuatan perpustakaan.
Jelas yang paling seru adalah saat kita beneran sampe di perpustakaannya and starting the changes. Mindahin barang-barang keluar, mulai ngecat dan gambar, sampai akhirnya masang karpet dan main-main pake barang yang ada di perpus. we take silly photos, of course, dan main cerdas cermat (are you smarter than a fifth grader BD).
I can't tell much more. Bagian ini adalah yang paling nyenengin dan paling diluar perkiraan menurut gue. Waktu kerja yang tadinya dikira cuma 3 hari molor jadi sekitar 6 hari. Kerjaan yang kayaknya gampang ternyata sampe bener-bener selesai butuh waktu 3 harian. Kerjaan yang kayaknya lama ternyata selesai setengah hari, dan lain-lainnya. But it's all work hard play hard and great result.
see you on the last part :)
Jelas yang paling seru adalah saat kita beneran sampe di perpustakaannya and starting the changes. Mindahin barang-barang keluar, mulai ngecat dan gambar, sampai akhirnya masang karpet dan main-main pake barang yang ada di perpus. we take silly photos, of course, dan main cerdas cermat (are you smarter than a fifth grader BD).
I can't tell much more. Bagian ini adalah yang paling nyenengin dan paling diluar perkiraan menurut gue. Waktu kerja yang tadinya dikira cuma 3 hari molor jadi sekitar 6 hari. Kerjaan yang kayaknya gampang ternyata sampe bener-bener selesai butuh waktu 3 harian. Kerjaan yang kayaknya lama ternyata selesai setengah hari, dan lain-lainnya. But it's all work hard play hard and great result.
see you on the last part :)
I decided to make this series along the holiday. This is one fascinating project, experience, and class I've ever taken. Enjoy :)
Semester lima kemarin gue ambil mata kuliah Everyday Architecture. Di kelas ini, kita dapet project besar yang dikerjain sama satu tim (10-12 orang) selama setengah semester. Proyeknya menarik; mengubah perpustakaan sekolah dasar menjadi 'The Heart of School' dengan metode partisipasi yang dijelasin di kelas saat kuliah. Di sini kita diminta untuk mengimprove kualitas perpustakaan yang sudah ada supaya bisa jadi tempat yang menarik bagi murid sekolahnya dan kemudian bisa juga meningkatkan minat baca anak-anak yang ada di sana.
It was a whole new experience for me. Basically, kerja sama anak kecil itu memang tidak gampang, tapi entah kenapa, menarik. You know, the feeling when you were in front of the class, telling them what to do, and seeing their enthusiastically doing what you have told them, and finally seeing their happy faces when they're done. That's too much happiness, but anyway, gue akan menceritakan bagaimana akhirnya projek ini dilaksanakan.
Hal pertama yang dilakukan (setelah survey dan janjian sama sekolahnya) adalah workshop. Seperti yang gue bilang sebelumnya, proyek ini kan mesti ada partisipasi dari siswanya. Yang kelompok gue lakukan untuk menjalankan partisipasi ini pertama-tama adalah mencari tema yang diinginkan sama si murid sekolahnya dan mencari tahu hal-hal yang mereka suka dan tidak suka di perpustakaan.
Caranya? Kita nyediain beberapa template tema (untuk kelas 2,3, dan 4), dan membagikan kertas ukuran setengah A5 buat masing-masing anak. Terus mereka disuruh gambar sesuai dengan tema yang dipilih dan menempelkannya di template yang ada di depan kelas. Cara yang sama juga dilakukan untuk mengetahui their preference on the library. Kita nempel 4 kertas A2 di papan tulis dan murid-muridnya (yang kelas 5 dan 6) menuliskan apa yang mereka suka dan yang nggak mereka suka di perpustakaan secara bergantian.
Dari semua tema ini, ternyata yang dipilih sama anak-anaknya adalah tema bawah laut (banyak yang gambar dengan tema itu) dan tema itulah yang akhirnya dipakai sama kelompok untuk dikembangkan dan dijadikan dasar untuk desain perpustakaan yang baru.
Next, I'll tell you about the design process and the working process! for other project and information click here. info about the class, click here.
Semester lima kemarin gue ambil mata kuliah Everyday Architecture. Di kelas ini, kita dapet project besar yang dikerjain sama satu tim (10-12 orang) selama setengah semester. Proyeknya menarik; mengubah perpustakaan sekolah dasar menjadi 'The Heart of School' dengan metode partisipasi yang dijelasin di kelas saat kuliah. Di sini kita diminta untuk mengimprove kualitas perpustakaan yang sudah ada supaya bisa jadi tempat yang menarik bagi murid sekolahnya dan kemudian bisa juga meningkatkan minat baca anak-anak yang ada di sana.
It was a whole new experience for me. Basically, kerja sama anak kecil itu memang tidak gampang, tapi entah kenapa, menarik. You know, the feeling when you were in front of the class, telling them what to do, and seeing their enthusiastically doing what you have told them, and finally seeing their happy faces when they're done. That's too much happiness, but anyway, gue akan menceritakan bagaimana akhirnya projek ini dilaksanakan.
Hal pertama yang dilakukan (setelah survey dan janjian sama sekolahnya) adalah workshop. Seperti yang gue bilang sebelumnya, proyek ini kan mesti ada partisipasi dari siswanya. Yang kelompok gue lakukan untuk menjalankan partisipasi ini pertama-tama adalah mencari tema yang diinginkan sama si murid sekolahnya dan mencari tahu hal-hal yang mereka suka dan tidak suka di perpustakaan.
Caranya? Kita nyediain beberapa template tema (untuk kelas 2,3, dan 4), dan membagikan kertas ukuran setengah A5 buat masing-masing anak. Terus mereka disuruh gambar sesuai dengan tema yang dipilih dan menempelkannya di template yang ada di depan kelas. Cara yang sama juga dilakukan untuk mengetahui their preference on the library. Kita nempel 4 kertas A2 di papan tulis dan murid-muridnya (yang kelas 5 dan 6) menuliskan apa yang mereka suka dan yang nggak mereka suka di perpustakaan secara bergantian.
![]() |
| See their happy faces and the wonderful pictures they have produced :D. click to enlarge |
Next, I'll tell you about the design process and the working process! for other project and information click here. info about the class, click here.



























