Sunday, October 10, 2010

losing someone

selasa kemarin gue dan (hampir) setengah departemen ngelayat. One of us has passed away, anak angkatan gue.

Jujur seminggu ini ritme kuliah yang biasanya sangat hectic jadi bener-bener di slow down... gue sih ngerasanya gitu ya, gatau deh yang lain. Tapi studio sempet sangat gloomy sampe gue males untuk ada di sana.

Hari Selasa kemarin itu serius, gue nggak ngerti kenapa temen-temen gue nangis kejer, padahal selama ini mereka menurut gue nggak sedeket itu sama temen gue yang ngedahuluin kita semua ini. Nggak ngerti kenapa temen-temen gue rame banget nulis di wall temen gue itu, rame-rame nulis DUDU di mading, saying sorry or just that they love him so much.

that makes no sense menurut gue. He can't read anymore, he may not sense you anymore.

but this morning, just now, I watched the video. Re-watched the video played last thursday, made by a friend of mine, dedicated to him, buat acara doa bersama yang diadain di fakultas.

This time it's different.

selama beberapa hari kemarin, gue berulang-ulang kali bilang ke temen gue. "Gue masih nggak percaya, gue masih kayak... ya udah sih, dia emang jarang banget bareng sama gue, gue nggak ngerasa ada yang sangat berubah," temen gue bilang dia juga ngerasain hal yang sama. Dia bilang masih nggak ada bedanya,

But this time, it's different.

you know, losing someone for good means that he will no longer be with you anymore. Dan saat lo sadar kalo dia emang bener-bener udah nggak ada, baru deh kerasa selama ini lo udah ngapain aja ke dia, that you have done a lot of mistakes to the very person, maybe not directly. Ignoring him is one of the mistake I've done.

Still, gue nggak yakin minta maaf sekarang ada gunanya, yang jelas, kepergian dia yang sekarang mendadak kerasa sama gue, memberi banyak, banyak sekali pelajaran. That everyone will end their own life someday, di waktu yang bahkan lo sendiri nggak tahu. Dan gue sangat, sangat ingin pergi di saat semua tugas gue sudah tunai semua.

Pas doa bersama kemarin, ustad nya bilang, kematian itu nggak menjemput, bahkan nggak mengejar. Dia menunggu di suatu waktu sampe kita semua sampai di sana. Like a finish line, bedanya, kita lari sendirian dan belum tentu kita menjadi pemenangnya.

Gue ingin jadi pemenang, dan gue ingin temen-temen gue jadi pemenang juga. Gue diingatkan bahwa gue nggak tau apa yang bakal kejadian besok. Gue bahkan nggak tau apa yang bakal kejadian tepat setelah gue ngeklik publish post button di bawah.

Waktu nggak ada yang tahu, terimakasih untuk pelajarannya ='')

No comments: