Tuesday, June 3, 2014

GOING SINGAPORE #4 : THINGS TO BRING

Hello! I'm home!

Liburan saya ke Singapura akhirnya selesai hari Sabtu kemarin. Oleh-olehnya lumayan; baju kotor sama kaki-tangan-bahu pegel akibat jalan kaki dan bawa beban berat. Nggak itu aja, sih, sama foto-foto cantik singapura juga kok.

And here we goes with #4 : Things to Bring.

Sebelumnya, series ini sebetulnya cuma mau menceritakan pengalaman saya (garis bawahi : si anak rumahan yang mager kemana-mana) jalan-jalan 3 hari di Singapura plus persiapan yang saya lakukan. Saya juga akan menulis soal hal-hal yang membantu banget selama saya di sana. But the best guide is your own guide. Yang saya tulis ini, works for me, maybe not for the others. But if this give you any help, than it'll be good :).

Di #2, saya sudah cerita kalau saya sama Dhila sempat diskusi harus beli apa saja sebelum kami berangkat. Bukan maksudnya nyuruh orang belanja, tapi memang ada beberapa hal penting yang menurut saya harus dibawa saat jalan-jalan. Beberapa barang penting yang sepertinya akan helpful kalau dibawa adalah :



1. Power plug alias colokan
Colokan Indonesia beda sama colokan yang dipake di Singapura. Colokannya bentuknya seperti ini :
Gampang nemuinnya, kalau saya waktu itu belinya di supermarket. Harganya juga gak mahal-mahal banget, pertama kali beli sih Rp. 30.000,-, pas beli yang kedua kali harganya kalo nggak di Supermarket ternyata bisa Rp. 15.000,-. Tapi kalo belum sempet beli, coba cari di Mustafa, Little India. Di sana juga menyediakan colokan jenis ini (dan walaupun saya nggak cek harganya, pastinya lebih mahal. Jadi mendingan beli di Indonesia. Jangan terlena dengan harga 1 digit di Singapura; sebetulnya itu mahal, teman-teman!)

Jadi ceritanya colokan ini adalah barang pertama yang saya beli sebagai persiapan pergi ke Singapura. Terus, H-3 berangkat, mulailah saya packing. Tiba-tiba ayah saya nyamperin, nanyain colokan yang saya beli seminggu yang lalu. Saya kasih lihat kan, dia pegang sebentar, terus tiba-tiba... patah dong. Jadilah dia pergi beli yang baru (kayaknya di toko matrial).

2. Tisu basah atau hand sanitizer.
Kebetulan kemarin saya cuma bawa tisu basah sementara Dhila bawa dua-duanya. Keperluannya sih untuk cuci tangan sebelum makan. Di hawker tempat kami cari makan kemarin, kami nggak menemukan wastafel macem food court di mall-mall, sementara tangan pasti udah kotor banget bekas jalan-jalan seharian.

3. Tisu dan kipas.
Yang ini beneran personal stuff sih. Singapura panas itu semua orang juga tahu, and Indonesian used to a hot-striking-sun in daytime. Saya bawa kipas karena kebiasaan aja sebenernya, tapi lumayan kepake juga. Kalo tisu bisa dipake buat lap-lap keringet di muka lah biar nggak kucel-kucel banget. Tapi tips paling top menurut saya, kalau kegerahan, naik bus lah. Bus nya full AC dan biasanya sepi, plus halte bus ada dimana-mana. What is traveling without getting lost anyway :).

4. Smartphone
Smartphone + internet is one powerful device. Percayalah bahwa dengan modal smartphone, even tanpa peta-peta turis, kita bisa kemana aja di Singapura. Dengan smartphone dan internet saya bisa nemu masjid dan tempat makan waktu jalan-jalan ke sekitar Vivocity. Tipsnya, begitu landing dan beres urusan imigrasi, belilah kartu perdana Singapura di Sevel bandara. Harganya SGD15 dengan pulsa SGD18 (jangan di konversi ke IDR, mahal!) Lalu tinggal aktifkan paket internet yang tersedia. Mbak-mbak sevelnya baik kok, waktu itu dia jelasin cara daftar paket internetnya dan rekomendasiin provider yang kami pake.

5. Suitable outfit
Cuaca di Singapura sama aja kayak di Indonesia, cuma, instead of staying inside the mall, we will walk, walk, walk, climbing flights of stairs, and walk, walk, walk and walk. Jadi sendal/sepatu dan pakaian yang nyaman is a must. Kemarin sih Dhila bawa topi, terus kami juga lihat banyak orang Singapura yang pake payung saat jalan di trotoar. Kalau mau bawa sun cream juga boleh. Senyaman-nyamannya lah, pokoknya. Sesuaikan juga sama itinerary yang sudah disiapkan. Kalau saya kemarin bawa running shoes sama sendal jepit. Bawa high heels karena mau gaul di Clarke Quay juga suitable kok.

6. Tas Belanja
Tau recycle bag yang bisa dilipat itu, kan? Nah, waktu saya di Singapura, saya kepikiran kayaknya tas itu akan helpful saat belanja oleh-oleh. Hari terakhir saya di Singapura, karena daypack saya kecil, kantong plastik belanjaan oleh-olehnya saya tenteng seharian (muterin CBD Singapura nyari masjid sampai naik kereta terakhir ke Changi). Alhasil besok paginya, lengan dan jari saya pegel dan sakit banget karena beban belanjaan dan kantong plastiknya bisa bikin ujung jari mati rasa juga kalau terlalu lama. Sepertinya akan bikin gampang juga untuk masukin barang oleh-oleh ke dalam backpack/koper yang dibawa karena ringkes, udah di dalam satu tempat semua.

7. Suitable daypack
Jangan sampai jalan-jalan repot karena banyak tentengan. Isi daypack saya kemarin cuma dompet, paspor, tisu basah, tempat kacamata, sama mukena. Waktu mau berangkat, saya isi sama boarding pass (karena saya web check-in) dan tiket juga. Kalo Dhila bawa yang agak besar, jadi bisa dia pake untuk nyimpen barang-barang yang dibeli di hari terakhir kami di Singapura. Anything that suits you best will do, mungkin lebih baik untuk direncanakan dulu isi daypack ini apa saja.

8. Sufficient SGD
Saya baru tukar IDR ke SGD sore hari sebelum saya harus berangkat ke rumah Dhila (karena flight kami persis habis subuh). Tadinya saya mau tuker di airport aja saking desperatenya nggak nemu money changer, tapi katanya sih harganya bakalan jelek banget. Berhubung saya nggak coba, jadi saya juga nggak tahu. Tapi kalau memang nggak sempet, tukarlah minimal SGD50 sebelum sampai di Singapura. Hitungannya SGD15 untuk beli simcard, SGD30 untuk beli Singapore Tourist Pass (3-day pass), dan sisanya untuk beli tiket MRT/bus buat sampai ke kota kalau misalnya Singapore Tourist Pass nya lagi nggak bisa dibeli di bandara seperti yang kejadian sama saya kemarin. Money changer, selain di bandara, yang saya liat ada di Lucky Plaza dan di deket Mustafa Center di Little India.

9. Botol minum
Ini adalah barang yang sudah direncanakan untuk dibawa dari sejak sebelum beli tiket dan akhirnya nggak kebawa juga. Saya nggak nemu banyak water-tap di jalan. Cuma nemu satu di bandara, satu di Garden by the bay, sama satu lagi di Masjid yang ada di basement UOB plaza. Di hostel saya juga saya nggak nanya sih ada dispenser dengan air biasa apa nggak, yang ada di dapurnya soalnya air panas aja. Cuma, banyak orang yang nyaranin untuk bawa. Jadi, kalo inget sih bawa aja.

Perlu diketahui harga air minum botol di Singapura sangat bervariasi. Di sevel pas lagi haus-hausnya, saya liat air mineral SGD 1.8. (YA NGGAK DIBELI LAH kan ini jalan-jalan pelit!). Tapi rata-rata harga air mineral itu SGD1.  Waktu itu kami terlena harga 1 digit sih, padahal sih 10ribuan juga (huft). Yang bikin kami lumayan kaget, waktu iseng beli air mineral di semacam toko kecil deket hostel (di Little India juga) harganya malah SGD 0.5! Jadi saya sama Dhila rencana beli di sekitar Little India aja besoknya. Eh ternyata besoknya, pas udah pede ngeluarin SGD1 saat mau beli di tempat makan yang beda, harganya SGD1.2. Yaudah terlanjur ngambil, dibeli aja.

Oiya, kalau bosan minum air putih (siapa tau) di McDonald ada coca cola kecil yang harganya SGD 1. Di dua hawker yang kami kunjungi juga harga es-esan (saya beli orange juice sama es leci dan dhila beli es tebu) harganya juga SGD1. Jadi ya kira-kira harga minuman segitulah kalo nggak ada water tap atau nggak bawa botol minum. Ini tips pelit yang nggak saya lakukan tapi kepikiran sih, misalnya nih ya, abis beli es-es gitu kan ada es batunya. Yaudah, masukin aja es batunya ke dalem botol minum, nanti juga cair sendiri dan jadi air minum kan. Ya kan? (abis itu fix jadi anak paling pelit).

10.Suitable Backpack
Kemarin saya sama Dhila salah perhitungan. Karena nggak mau beli bagasi tambahan, kami bawa ransel biar bisa masuk ke kabin. Padahal mah koper yang bisa ditarik-tarik itu, yang ukurannya sesuai sama aturan maskapai (cek dulu yaa), juga masuk-masuk aja. Gak bikin sakit bahu pula. Terus kan di Singapura jalan kaki enak, ada ramp di mana-mana juga, jadi nggak akan sulit narik-narik koper ke hostel dari bandara.

Tapi pake backpack keren dan ringkes kok (cari-cari alesan). Backpak saya yang ini ukurannya ngepas sama ukuran yang dibolehin masuk kabin dan nggak terlalu berat juga (kalo ngepack dan cara pakenya bener).

Segitulah kira-kira barang-barang penting yang kayanya perlu dibawa saat pergi ke Singapura. Nggak semua saya bawa, sih. Just in case I go back someday, setidaknya udah tau mana yang ditinggal mana yang dibawa.

See ya on #5!

1 comment:

Fadilah said...

oleh-oleh ... hahaha