Deserving Happiness

August 22, 2018

picture source : here
Lagi pengeeeeen bgt nulis soal bahagia belakangan ini. Soalnya entah kenapa beberapa kali, lagi ngerasa seneng dan nggak ada beban banget, terus kayak tersadar dan mikir, am I deserve to be happy?


Sebenernya sedih sih karena terbersit pikiran kayak gitu. Walaupun saya juga paham betul kondisi kayak apa yang saya alami sampai bisa mikir gitu. Tapi terus jadi sadar, pikiran yang nggak dikasih 'makanan' yang baik, bisa banget menghalangi saya untuk jalan ke depan.

Jadi yang saya pelajari beberapa bulan belakangan ini adalah, apapun yang saya hadapi, sebetulnya saya bisa memilih, mau bikin hal tersebut jadi alasan saya untuk jalan di tempat dan merasa nggak pantas bahagia atau memutuskan untuk bangun dan melihat pintu kesempatan apa yang kemudian terbuka untuk saya. Saya nggak bilang saya konsisten memilih pilihan kedua. Ada kalanya, dan nggak jarang, saya mempertimbangkan pilihan yang pertama (yang sebenernya buang-buang waktu aja, sih karena pada akhirnya saya kembali ke pilihan yang kedua).



Alasan kenapa saya mempertimbangkan pilihan yang pertama adalah karena itu lebih mudah. Mengasihani diri sendiri dan ngejadiin itu alesan untuk staying longer in bed in the morning, dropping tasks for some so-called healing binge watching tv shows, and procrastinating itu kedengeran kayak... lebih sayang sama diri sendiri dan jauh lebih mudah. Jauh lebih mudah juga untuk merasa ada orang lain yang bersalah sama saya. Jauh lebih mudah untuk mengasihani diri sendiri daripada sadar kalau well-being saya nggak seharusnya di-define sama keberadaan/perbuatan orang lain.


Itulah kenapa saya bilang saya sedih saat sadar kalau terkadang saya mikir apakah saya pantas bahagia, apakah saya pantas living my life like I have no worry? Karena jawaban buat pertanyaan itu ya cuma satu. Pantas. My happiness, my well-being, my view of my own life shouldn't be define by other things except by the one who give out the life and happiness Himself.


And this, leads to the second choice that I try to keep on choosing everytime I back to the square one.



Orang-orang yang saya percaya selalu (and write that in italic, bold letters, se-la-lu) bilang ke saya bahwa apapun yang kejadian ke saya adalah kehendak Allah yang memang pasti terjadi. Sekarang, karena apa yang saya alami ini bukan pilihan, yang jadi pilihan adalah cara saya menyikapinya. Ya dua pilihan yang saya bilang tadi. Mau yang sesuai sama hawa nafsu manusia atau mau yang pakai potensi berupa akal yang sudah dibekelin juga sama Allah?



Gimana caranya bisa terus memilih pilihan yang kedua? Kasih makan pikirannya yang bener. Bukan dengan pembelaan diri, bukan dengan menganalisa siapa yang salah atau benar, not with questioning what could have been. Tapi dengan mendekatkan diri teruuuus ke Allah, minta diberi kekuatan, kesabaran, dan minta dikasih hati yang ikhlas. Minta dikasih penyelesaian yang baik sama yang Maha berkehendak. Dan percaya bahwa Allah tidak akan memberi sesuatu di luar kemampuan hambaNya. Berat, iya. Tapi Allah lebih tau kemampuan saya.

Susah? Banget. Kalau yang saya tulis barusan itu level 100, saya kayaknya bolak balik di level 1-10. Berulang-ulang kali mempertanyakan pilihan sikap saya dan berulang-ulang kali juga berusaha memilih yang kedua.

But practice makes progress and everytime, it will hurt a little less (borrowing a phrase I read in someone's instagram stories). Oiya sama sekalian nambahin, choosing the second option doesn't mean I don't get hurt. Buat saya sakit hati itu manusiawi, semacam refleks. Sakit iya, sedih iya. Tapi, balik lagi. Mau ke dokter atau mau didiemin aja itu sakitnya? Mau nangis sampai pusing dan mata bengkak karena inget sama manusia atau mau inget sama Allah aja sampe ketiduran terus besoknya bangun dan udah lupa.

I might sound too harsh to myself tapi saya percaya, saya lagi perlu seperti itu. I still watch the funniest tv shows if that means I can forget about hurtful things a little faster. And it's alright, as long as I know which option I'm choosing.

Lagipula, semakin saya berusaha memilih yang kedua, semakin saya melihat kesempatan-kesempatan yang belum tentu bisa saya dapatkan kalau saya menyerah ke pilihan pertama.

So, can I choose to be happy? Sure. Am I deserve to be happy? Yes I 1000% deserve the happiness.

You Might Also Like

0 comments

Blog Archive