Tuesday, March 15, 2011

pra-ujian syndrome

satu momen yang masih bisa gue inget dan gue ceritakan dengan lengkap mungkin momen saat gue keterima masuk di universitas kemaren. Gue nggak tau pernah cerita di blog atau belum. tapi ceritanya begini;

seharian itu, tanggal 3 April, hari Jum'at gue bad mood abis-abisan di sekolah. kerjaannya marah-marah sama semua orang dan bener-bener nggak tenang karena malem itu, pengumuman udah bisa diliat di internet. Bahkan pas bangun pagi gue tiba-tiba kepikiran bahwa gue belom ngisi nomer ujian di kertas soalnya waktu itu. freak banget lah pokoknya.

malemnya, gue dan beberapa temen memutuskan untuk nunggu pengumuman online. kita udah rencana nggak tidur tapi entah kenapa gue tidur juga. bener-bener nggak nyadar kenapa gue bisa tidur padahal seharian itu gue bener-bener panik dan cemas.

Kira-kira tengah malem, gue nggak inget juga sih pasnya jam berapa, gue dibangunin tiba-tiba sama temen-temen gue yang ternyata beneran nggak tidur nungguin pengumuman dan seorang temen lagi yang nggak ikutan ujian sebenernya. mereka bangunin gue dengan bilang, "pit, pit bangun, pit! kamu lulus arsitektur," dan gue dengan masih mengantuk cuman bisa nyaut, "boong," tapi agak deg-degan juga. Akhirnya temen gue yang ngeliatin hasil ujian gue bilang kalo gue beneran lulus. gue sendiri nggak liat pengumumannya malem itu, tapi yang jelas gue nggak bisa tidur setelahnya. hampir sampai pagi.

perasaan gue saat itu bener-bener nggak bisa diungkapin dengan kata-kata. seneng iya bangga iya bersyukur iya dan sedih juga iya karena walaupun gue balik ke depok untuk kuliah, gue harus ninggalin temen-temen SMA gue di Bandung, a place where I feel like settled already.

dan kenapa eh kenapa gue tiba-tiba menulis tentang ini. hmm, bukan nostalgia mahasiswa tingkat 2 (yang bertanya-tanya kenapa ini kuliah kok rasanya cepet beneeeeeer) tapi karena adik-adik kelas gue baru banget selesai ujian sekolah and soon enough will be faced their SNMPTN. gue nggak ngerti sih sekarang sistemnya gimana, yang jelas, they are going to be a college student soon. they may or may not experienced something similiar to mine. di facebook maupun via sms nantinya yakin banget bakalan ada yang bilang : semangat yaa buat ujiannya. mudah-mudahan lolos. atau ah, kalian mah bisa laaah ujiannya, kan udah  banyak latihan! dan lain-lain yang semacam itu.

Bukannya apa-apa. Gue juga berdoa kok untuk kesuksesan mereka, dan gue sama sekali tidak meng under estimate kemampuan adik-adik kelas gue ini. Gue nggak tau kapan mulainya, tapi gue akhirnya semacam sadar kalo pada akhirnya, setelah kita berencana dan berusaha dengan keras, cuma Allah yang menentukan hasilnya. Dan hasil itu adalah hasil yang paling baik untuk kita.

Mari berpikir seperti ini, pernah baca goosebumps yang milih-milih halaman, kan? yang 'jika kamu mau keluar ruangan lanjut ke halaman sekian, atau jika kamu mau tetap berada di situ, lanjut ke halaman sekian.' si ceritanya udah ada dari dulu, kita yang menentukan kesempatan-kesempatan yang akan kita raih, dan di setiap kesempatan itu, ada konsekuensinya. baik yang udah kita perkirakan sebelumnya, maupun yang belum. yang tau semua konsekuensi dari pilihan-pilihan yang muncul di hadapan kita kan yang menciptakan plotnya, begitu juga dengan yang mengetahui batas kemampuan kita.

Segala macam hasil perbuatan yang udah kita kerjain, either it sounds like the worst thing ever heard or maybe it is a good one, is the best thing to happen to us at that time. jadi akhirnya gue menjawab sms adik-adik kelas gue (kalo mereka minta doa buat ujian) dengan "yah, pasti hasilnya yang paling baik lah, semangat yaaaa :D"

dengan percaya pada hal tersebut, buat gue, menerima hal-hal yang tidak kita perkirakan sebelumnya ataupun hal-hal yang terdengar buruk (seperti misalnya nggak lulus ujian atau semacamnya) akan menjadi lebih mudah.

No comments: